Tidak Semua Harus Baru, AKASU ART Sepeda dan Seni

“Akasu Art” sebuah singkatan dari Akal Akalan Asu. Entah darimana Lek Kus mendapatkan nama seperti itu tetapi nama tersebut sudah tidak asing lagi dikalangan para teman teman pesepeda. Pada awalnya workshop Akasu terletak di daerah pingit Yang kemudian berpindah ke Wirokerten Banguntapan Bantul, bengkel tersebut merupakan bengkel warisan dari sang ayah. Tidak hanya bengkel yang diwariskan tetapi juga sebuah keahlian yang bermanfaat.

Ya, Lek Kus merupakan orang dibalik Akasu Art. Mulai dari jam 8 pagi Lek Kus sudah memulai aktivitasnya mempersiapkan apa yang akan dikerjakan dengan menyalakan rokok surya di mulutnya Lek Kus memulai pekerjaannya. Hingga petang pun datang dapat terlihat sebuah besi sudah terbentuk menjadi sebuah frame sepeda.

Sebelum menjadi seorang frame builder sepeda, Lek Kus dahulu memproduksi becak bersama sang ayah. Seiring bergantinya zaman becak sudah tidak digemari lagi di masyarakat. Lek Kus memilih untuk membangun frame sepeda dari sepeda bekas. Ini semua berawal dari seorang customer yang meminta untuk dibuatkan sepeda dari frame sepeda bekas yang dibawanya. Dengan memanfaatkan frame dan beberapa besi bekas Lek Kus membuat sebuah karya berupa frame sepeda dengan ciri khasnya tersendiri. Akasu Art dapat menjadi pilihan ketika harga sepeda diluar sana mulai tinggi. 

Sebuah warisan yang menjadikan harapan dari setiap apa yang dilakukan. Dengan berjalannya waktu perubahan baru membuat harapan baru dalam kehidupan. besi tua berkarat dan usang mungkin bagi sebagian orang mungkin sudah saatnya untuk dibuang bagi Lek Kus ini adalah sebuah harapan, harapan untuk melangsungkan kehidupan, harapan untuk melanjutkan apa yang sudah diberikan supaya tetap dapat bertahan didalam sebuah persaingan. 

Iqbal Maulana

Share on facebook
Share
Share on twitter
Tweet
Share on pinterest
Pin

Discover More