Pak Barmanto : Penjaga Asa Wayang Kulit Wukirsari

Salah satu pengrajin wayang kulit di desa Pucung tepatnya di Pucungkarangasem, Wukirsari, Imogiri, Bantul yang masih bertahan hingga saat ini bernama Bapak Barmanto. Pak Barmanto ini lebih dikenal dengan Pak Barmanto Kulit, kata kulit yang berada pada belakang namanya itu sudah melekat pada beliau. Beliau memakai kata kulit dibelakang namanya bertujuan agar lebih mudah dicari dan dikenal oleh masyarakat.  Pak Barmanto mulai membuat kerajinan wayang ketika ia masih kecil, beliau belajar dengan bapaknya yang juga merupakan seorang pengrajin wayang kulit. Pak Barmato tidak tamat SD beliau memilih untuk fokus dan menekuni pekerjaan sebagai pengrajin wayang kulit ini.

Proses pembuatan wayang ini membutuhkan waktu yang lama biasanya 10 hari untuk 1 wayang mulai dari menjemur kulit kerbau, sapi atau kambing lalu proses natah dan yang terakhir proses mewarnai. Natah itu sendiri adalah membentuk kulit kerbau, sapi atau kambing menjadi bentuk wayang yang diinginkan dengan menggunakan alat yang sederhana dan masih tradisional, lalu ada mewarnai proses mewanai wayang kulit ini dilakukan setelah proses natah selesai. Harga satu wayang kulit yaitu 450rb tetapi ada juga yang lebih murah dan ada juga yang lebih mahal tergantung dengan ukuran dan tingkat kesulitannya.

Pak Barmanto mencukupi segala kebutuhan sehari-harinya dengan uang hasil penjualan wayang kulit yang sekarang peminatnya tidak terlalu banyak walaupun sebenarnya hasil dari penjualan tersebut tidak sebanding dengan lama waktu yang dibutuhkan untuk membuat wayang dan kesulitannya tetapi Pak Barmanto masih tetap bertahan dan melestarikan budaya yang jarang orang bisa membuatnya. Kaitannya sama asa itu sendiri adalah untuk melestarikan budaya atau menjaga kelestarian budaya, apalagi dengan adanya pandemi seperti saat ini mereka tetep bertahan membuat wayang kulit walaupun berbeda dengan sebelum pandemi mereka dapat memproduksi banyak wayang kulit dibandingkan sekarang, hal tersebut sangat berpengaruh pada perekonomian mereka sama mereka itu tetap bertahan menggunakan alat tradisional dan tetap membuat wayang kulit yang diluar sana juga banyak pengrajin wayang yang tidak menggunakan kulit untuk membuat wayang (lebih modern dan lebih mudah cara pembuatannya). 

Sinta Anggraini

Share on facebook
Share
Share on twitter
Tweet
Share on pinterest
Pin

Discover More