Mempertahankan Kelestarian Kain Lurik Pedan

Pedan adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Klaten yang dikenal sebagai pusat kerajinan kain tenun lurik. Lurik Pedan merupakan warisan budaya yang sangat berharga di kota Klaten. Sampai saat ini, produksi kain lurik masih berjalan meskipun banyak yang sudah beralih dari ATBM ke ATM bahkan tidak sedikit usaha kain lurik yang gulung tikar. Salah satu pengrajin kain lurik tradisional yang masih menggunakan ATBM dapat ditemui di Jl. Pedan – Karangdowo, Jembangan, Jetis. Tempat pembuatan lurik ini dikelola oleh Bapak Jarwari bersama 4 pengrajin lurik lainnya. Pak Jarwari mengatakan bahwa beliau bersama pengrajin yang lain ingin mempertahankan ciri khas kain lurik yang menggunakan ATBM, sehingga kerajinan tradisional ini dapat terus bertahan.

Sebelum melewati berbagai macam proses, seorang pengrajin lurik terlebih dahulu merancang motif yang akan dituangkan menjadi kain lurik. Proses pembuatan lurik di tempat Pak Jarwari dimulai dengan menyiapkan benang yang akan melalui proses pengelosan. Malet atau kelos adalah proses memintal benang mentah menjadi gulungan-gulungan kecil (palet) atau gulungan-gulungan besar (kelos). Proses selanjutnya adalah Sekir, yaitu merangkai gulungan benang-benang yang telah melalui proses pengelosan menjadi sebuah motif. Setelah melalui proses Sekir (penataan benang), kemudian benang tersebut dimasukkan ke dalam alat tenun. Proses menenun dilakukan oleh 2 pengrajin, meskipun para pengrajin sudah cukup berumur, mereka tetap menekuni pekerjaannya dengan sepenuh hati. Terdapat beberapa kendala yang dialami oleh pengrajin seperti pada saat terdapat benang yang terlalu halus dan mudah patah, tali ATBM juga ikut tergeser. Jika hal tersebut terjadi, maka benang menjadi renggang dan kain hasil tenun menjadi kurang bagus. Para pengrajin tetap berusaha untuk memproduksi kain lurik menggunakan ATBM karena memiliki keuntungan yaitu tekstur kain lurik yang dibuat dengan ATBM memiliki tekstur yang khas dan unik.


Di masa PPKM, produksi kain lurik menjadi sedikit terhambat. Hal ini tentu tidak memudarkan semangat para pengrajin lurik di tempat ini. Mereka tetap memproduksi kain lurik meskipun permintaan tidak sebanyak dahulu. Hal ini dilakukan dengan harapan agar dapat terus melestarikan kain lurik sebagai kain tradisional di Indonesia.

Fathia Ailsa Ramadhani

Share on facebook
Share
Share on twitter
Tweet
Share on pinterest
Pin

Discover More