Wayang Kristal : Merawat Eksistensi Budaya Seraya Memelihara Bumi

Perkembangan zaman yang semakin canggih dewasa ini, memengaruhi keberlangsungan kebudayaan lokal dengan serbuan budaya asing yang masuk ke Indonesia melalui globalisasi. Hal inilah yang menjadi kecemasan dari Pak Sardi, seorang seniman asal Yogyakarta yang khawatir budaya asli Indonesia, seperti wayang akan punah di masa mendatang. Namun, kecemasan Pak Sardi terhadap masa depan, juga ikut merembet tentang bagaimana nasib alam di bumi ini di masa mendatang, terutama dengan isu sampah yang dapat merusak lingkungan.

Oleh karena itu, pada masa awal-awal pandemi ketika tidak banyak aktivitas yang bisa dilakukan, tercetuslah ide untuk membuat wayang dari bahan limbah yang sudah tidak terpakai. Di kediamannya yang sekaligus menjadi sanggar di belakang Pasar Lempuyangan, Pak Sardi mulai bereksperiman mencari formula terbaik untuk mahakaryanya tersebut. Hasilnya, ia berhasill menciptakan wayang dari bahan botol plastik bekas yang kemudian ketika dicoba disorot dengan lampu LED disco dapat menghasilkan efek kilatan-kilatan yang kemudian oleh orang-orang disebut sebagai wayang kristal.

Bahan dan proses pembuatannya pun bisa dibilang cukup sederhana, hanya dengan menyiapakan botol plastik bekas ukuran 1,5L kemudian potong bagian kepala dan bawah lalu dipotong menjadi lembaran. Agar menjadi lembaran yang rapi, lembaran botol tersebut kemudian disetrika dengan gerakan tangan yang cepat. Setelah itu siapkan pola wayang yang dapat diunduh melalui internet, lalu tempelkan pola tersebut di media kaca. Lembaran botol plastik tadi siap digambar menggunakan solder yang ujungnya sudah diruncingkan mengikuti pola tersebut. Untuk merangkai per bagian seperti tangan dan kaki dari wayang, Pak Sardi memanfaatkan cotton bud yang kemudian dilelehkan dengan korek api sehingga sendi-sendi dari wayang tersebut akan terkunci dengan kuat.

Karena tujuan berdirinya Sanggar Topeng Koran, sanggar milik Pak Sardi adalah untuk menggaet anak-anak muda maka segala bahan dan prosesnya akan dibuat sederhana oleh Pak Sardi. Disamping juga untuk mengedukasi tentang pemanfaatan limbah, maka proses perform dari wayang kristal ini juga dibuat menarik dengan menggunakan instrumen-instrumen yang kekinian sehingga diharapakan anak-anak muda dapat tertarik dengan wayang ini sembari pesan-pesan untuk tetap menjaga lingkungan ikut tersampaikan mengalir dalam proses pembelajaran kebudayaan wayang ini.  

Andika Nur Latif

Share on facebook
Share
Share on twitter
Tweet
Share on pinterest
Pin

Discover More