Seni Tempa Keris yang Semakin Terkikis Zaman

Suara dentang logam dengan lantang membuyarkan keheningan di Dusun Gatak, Desa Sumberagung, Kecamatan Moyudan, Kabupaten Sleman. Suara tersebutberasal dari sebuah bangunan sederhana bernama besalen, atau bengkel pembuatan keris yg berada tepat di belakang rumah Ki Empu Sungkowo Harumbrodjo.

Di tengah besalen, terdapat tungku yang disebut prapen. Prapen itu tersambung dengan pompa tradisional yang bernama ububan. Dua alat tradisional peninggalan generasi sebelumnya itulah yang menjadi pokok dalam proses menempa keris, juga terdapat beberapa macam palu dan kikir yang tergeletak serta tergantung di berbagai sudut ruang berukuran 6×4 tersebut. Ya, di besalen itulah keris yang merupakan senjata tradisional jawa dibuat. Namun, seiring dengan bertambahnya usia bumi, keris mulai merambah menjadi hiasan yang mempunyai nilai tinggi.

Padepokan Tempa milik Ki Empu Sungkowo Harumbrodjo yang merupakan
keturunan ke 17 sejak zaman majapahit dan merupakan penerus Ki Empu Djeno Hatumbrodjo ini, mempunyai dua pekerja atau yang sering disebut panjak, bernama Pardi yang telah menjadi panjak lebih dari 30 tahun dan Harno yang baru menjadi panjak sejak tahun 2013.

Pembuatan keris terbilang cukup sulit, untuk satu buah keris memerlukan waktu 30 sampai 40 hari. Juga terdapat pantangan berupa larangan membuat keris di hari-hari tertentu menurut kalender jawa (Selasa Pahing, Rabu Wage, Kamis Pahing, Kamis Wage, dan Kamis Legi) dan beberapa hari lainnya. Sebagai satu-satunya empu keris yang masih tersisa di Jogja, Sungkowo masih menjaga tradisi pembuatan keris dengan sesajen dan laku tirakat. Proses pembuatan keris dimulai dari menyiapkan bahan (besi tua), berdoa, sampai mengoles minyak pada tubuh keris. Diusia senja nya, Sungkowo berharap generasi muda dapat melanjutkan tradisi ini, melestarikan dan mengembangkannya.

Dziki Fahmi

Share on facebook
Share
Share on twitter
Tweet
Share on pinterest
Pin

Discover More