Pembuatan Apem Kesesi

Salah satu jajanan tradisional yang masih eksis di kalangan masyarakat Pekalongan khususnya Kecamatan Kesesi, yaitu kue apem. Kata apem diyakini berasal dari kata dalam bahasa Arab yaitu “afuan” atau “afuwwan” yang berarti pengampunan. Dalam filosofi jawa, kue apem juga merupakan simbol dari pengampunan. Tak ayal hampir disetiap acara tahlilan, khususnya di Kecamatan Kesesi, kue ini wajib hadir sebagai simbol permohonan maaf atas dosa yang dilakukan oleh kerabat yang sudah meninggal.

Mak Menis adalah salah satu warga Kesesi yang sudah memproduksi kue apem selama puluhan tahun. Ia mengatakan ada hal yang bisa membedakan enak tidaknya rasa dari kue ini. Apem yang enak adalah apem yang jika dimakan tidak “nggedadel” di mulut. Untuk menciptakan cita rasa tersebut, dibutuhkan bahan berupa tepung beras serta gula jawa atau gula aren. Asap “kemebul” dari proses pembuatan yang masih menggunakan tungku dapat menambah cita rasa tersendiri dari kue ini. Dandang, anyaman, sarangan dan daun adalah alat yang digunakan untuk membuat kue ini. Anyaman dan sarangan dibuat dari bambu yang dibentuk sedemikian rupa sehingga dapat mencetak kue apem. Semua peralatan ini belum bisa digantikan dengan wadah plastik atau sejenisnya.

Produksi rumahan kue apem masih dapat ditemukan dengan mudah, khususnya di Dukuh Bantul sebagai sentra produksi. Ini menandakan bahwa kue apem masi tetap eksis serta diminati banyak orang. Rasa yang otentik hadir dari peralatan serta proses pembuatan yang masih dilakukan secara tradisional. Meskipun berbagai jajanan modern kian bertambah, namun eksistensi kue apem masih tetap terjaga.

Rizqina Putri Antika

Share on facebook
Share
Share on twitter
Tweet
Share on pinterest
Pin

Discover More