Ngerumat Keris

Di zaman yang serba maju ini , pengrajin keris sangatlah dikit dan tidak bisa sembarangan orang. Dikarenakan proses pembuatannya yang bisa dibilang panjang serta rumit. Tak hanya pengrajin keris, orang yang bisa merawat keris juga pun semakin dikit. Keris sendiri merupakan senjata yang termasuk golongan belati (berujung runcing dan tajam pada kedua sisinya), dengan banyak fungsi budaya yang dikenal di Indonesia khususnya Jawa Tengah dan Timur. Bentuknya khas dan mudah dibedakan dari senjata tajam lainnya karena tidak simetris di bagian pangkal yang melebar, bilahnya yang berkelok-kelok. Pada masa lalu keris berfungsi sebagai senjata dalam peperangan, sekaligus sebagai benda pelengkap sesajian. Pada penggunaan masa kini, keris lebih merupakan benda aksesoris (ageman) dalam berbusana, memiliki sejumlah simbol budaya, atau menjadi benda koleksi yang dinilai dari segi estetikanya.

Pak Roni, salah satu orang di Yogyakarta tepatnya daerah Kotagede yang memiliki tempat untuk mereparasi keris. Tempat ini sudah ada sejak tahun 1983. Awal mulanya, Pak Roni merupakan pengrajin dari salah satu perusahaan perak di Kotagede. Karena memiliki keinginan berdiri sendiri serta banyaknya pelanggan yang datang untuk menemui langsung padanya, akhirnya ia membuka usaha sendiri yang berfokus pada reparasi kerisnya hingga sekarang.

Pada pameran kali ini, tema besar kami yaitu Aksata yang diambil dari bahasa Sansekerta, bahasa yang sempurna. Aksata diambil karena memiliki arti yang tidak terputus termakan waktu, usia, dan akan tetap diteruskan tanpa batasan, seperti halnya dengan Pak Roni. Ia telah menggeluti seluk beluk keris hampir 40 tahun, dan usaha ini akan terus dilanjutkan olehnya.

Fayadhiko Wicaksono

Share on facebook
Share
Share on twitter
Tweet
Share on pinterest
Pin

Discover More