Ironi Becak Masa Kini

Yogyakarta, kota budaya nan indah dan berhati nyaman katanya. Kota ini pula yang pernah menjadi saksi kejayaan sebuah alat transportasi yang biasa kita sebut dengan becak kayuh. Becak kayuh merupakan salah satu jasa antar yang pernah digandrungi masyarakat dan wisatawan pada era 80-an. Selain itu, becak merupakan peninggalan budaya Indonesia dibidang transportasi yang telah hadir sejak tahun 1937. Namun semua itu hanya bisikan sejarah yang kini mulai hilang gaungnya.

Modernisasi menjadi salah satu kata yang mungkin dibenci oleh para pengayuh becak. Sebab, dengan adanya modernisasi alat tranpsportasi juga turut berkembang mengikuti zaman. Itulah yang membuat para penarik becak kayuh semakin mengeluh. Tak cukup sampai disitu, para pengayuh becak juga tergerus penghasilannya oleh fenomena becak motor. Nahas, perkembangan becak motor yang hingga detik ini masih dipertanyakan legalisasinya justru jauh lebih pesat ketimbang becak kayuh. Penghasilan becak motor pun lebih beruntung. Meskipun tetap tidak seberuntung moda transportasi modern lain yang berburu wisatawan jua. Sungguh menarik nasib mereka.

Pengayuh becak menghabiskan hari di jalanan mulai fajar hingga surya memejamkan sinarnya. Lelah, letih, lesuh berjudi dengan keberuntungan akan pendapatan membuat mereka sanggup menikmati waktu beristirahat mereka bersama malam. Menunggu waktu untuk pulang membawa pundi pundi uang di becak mereka tersayang. Hari demi hari semakin mereka menyadari bahwa eksistensi mereka mulai mati dimakan modernisasi. Namun, keteguhan mereka dengan becaknya selalu sukses menguatkan, untuk tetap bertahan hidup bersama benda beroda tiga sarana mencari rupiah dengan susah payah. Penarik becak rela bermandi peluh sembari mengayuh becak dibalik harapan yang mulai rapuh. Tentu harapan tentan masa depannya.

Setelah semua itu, apa yang perlu kita lakukan terhadap becak kayuh?

Krisna Pamungkas

Share on facebook
Share
Share on twitter
Tweet
Share on pinterest
Pin

Discover More