Heritage Rewulu dan Patukan

Rewulu dan Patukan merupakan stasiun lama yang merupakan peninggalan masa Hindia Belanda. Daerah Istimewa Yogyakarta ini memiliki stasiun selain Tugudan Lempuyangan, masih ada banyak pemberhentian yang tak terjamah khalayak. Antara lain adalah Stasiun Patukan dan Stasiun Rewulu yang merupakan pemberhentian di barat stasiun Tugu. Bangunan khas peninggalan kolonial masih berdiri tegak walaupun di stasiun tersebut tak ada lagi kereta yang berhenti.

Stasiun Patukan dulunya aktif digunakan sebagai penghubung antara pabrik gula
Demakijo dan stasiun Yogyakarta. Sedangkan Stasiun Rewulu hingga kini masih digunakan sebagai kandang kereta dan penghubung dengan Pertamina. Pada taggal 24 November 2016, seorang warga tewas ditabrak kereta api Gajah Wong saat hendak memasuki stasiun Pachuca. Pihak PT KAI Daop VI Yogyakarta kemudian mengimbau kepada warga agar tidak beraktifitas di jalur kereta api.

Dua stasiun ini, dulunya sangat eksis hingga masa proklamasi Indonesia. Walaupun tak lagi aktif digunakan sebagai tempat pemberhentian, kedua stasiun ini selalu ramai setiap sore oleh pedagang kali lima. Terdapat banyak pedagang yang menjajakan dagangannya dan banyak pula orang yang menghabiskan waktu bersantai di pinggir peron.

Stasiun Rewulu dan Stasiun Patukan yang berada di sudut pinggir keramaian kota Jogja, memang tidak semegah dan sepopuler stasiun-stasiun yang ada, seperti Tugu dan Lempuyangan yang kini masih aktif beroperasi layaknya stasiun kereta pada umumnya. Tidak ada kereta api yang berhenti di stasiun ini, kecuali jika terjadi persusulan antar kereta api. Hal tersebut yang membuat tempat ini menjadi persinggahan di sore hari bagi masyarakat Yogyakarta. Yogyakarta memang memiliki cerita di setiap sudut kotanya yang membuat banyak orang selalu ingin mengunjunginya, pun stasiun Rewulu dan Pathukan.

Daffa Indra Dirgantara

Share on facebook
Share
Share on twitter
Tweet
Share on pinterest
Pin

Discover More